OneEast.co.id -  Dalam beberapa tahun belakangan, properti Indonesia dianggap belum bisa bangkit dari kelesuan sejak 2015. Namun ada juga yang berpendapat jika tahun ini menjadi momentum bagi properti di Indonesia. CEO Lippo Group James Riady mengungkapkan, peluang kebangkitan pasar properti Indonesia bisa dilihat dari tingginya angka kebutuhan rumah namun ketersediaannya masih kurang. Bahkan, angka backlog perumahan saat ini masih cukup besar, mencapai 11,4 juta tersebut menunjukkan betapa besarnya peluang bisnis di sektor properti.

"Di Asia Tenggara, mana lagi kalau bukan Indonesia yang pasarnya bagus? Semua indikator makro meningkat dan kebutuhan juga masih besar. Di Indonesia ada defisit 11 juta rumah. Jadi ada 11 juta orang yang ingin beli rumah tapi harga rumah tidak terjangkau. Jadi bayangkan mana yang bisa memenuhi kebutuhan ini," ujarnya di Raffles Hotel, Jakarta, Senin (11/9/2017) seperti yang dikutip dari laman Okezone.com.

Besarnya angka backlog tersebut karena tidak adanya dukungan dari pemerintah kepada pengembang dalam hal perizinan. Khususnya di daerah yang masih sangat rumit dan membutuhkan waktu lama untuk mengajukan izin.

Hal tersebut membuat para pengembang kapok untuk membangun properti. Jika itu terus dibiarkan maka angka backlog akan terus bertambah. "Jadi pasarnya luas sekali. Jadi jangan ada orang yang menghambat orang biasa punya rumah," jelas James.