OneEast.co.id – Aritmia atau gangguan detak jantung yang tidak teratur jarang disadari oleh seseorang. Pada lansia , kasusnya terus meningkat jumlahnya setiap tahun. Bedanya, penyakit ini menyebabkan detak jantung tidak bekerja dengan baik. Pada orang normal, detak jantung sebenarnya ritmenya tidak teratur, karena gangguan listrik jantung.

Seperti yang dikutip dari laman Okezone.com, Kamis (25/01/18), di Indonesia, kasus aritmia menyebabkan kematian mendadak sebesar 87%. Dalam dunia medis dikenal dengan istilah fibrilasi atrium. Populasi orang yang menderita gangguan detak jantung ini dialami oleh lansia. Pria paling sering menderita penyakit ini, dengan rasio 3 banding 2. Kaum hawa sejatinya dilindungi oleh hormon estrogen yang membuat dirinya terbebas dari penyakit gangguan jantung.

Penelitian Framingham Heart Study mengungkapkan, dalam periode 20 tahun, angka kejadian gangguan aritmia dialami oleh sekira 2,1% pria dan 1,7% wanita. Semakin bertambah tahun, jumlahnya meningkat, namun tak sedikit orang sadar dengan gejalanya.

"Aritmia bisa dicegah, caranya dengan meraba nadi sendiri yang bisa dilakukan rutin," ujar Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr Dicky Armein, SpJP(K) di kawasan Slipi, Jakarta Barat, baru-baru ini.

Gejala aritmia yang mudah dikenal yakni tak sebatas irama detak jantung kacau. Biasanya pasien mengeluh detak jantungnya kuat, sering lelah saat tak melakukan aktivitas berat, hingga kejadian lainnya seperti sakit kepala.

Kondisinya di tahun 2000, kasus aritmia dialami oleh7,7% populasi. Sementara di tahun 2050, kejadian penyakit ini semakin meningkat, menjadi 28,6%. Ke depan, orang berusia lanjut semakin banyak yang mengidap gangguan aritmia yang fatal akibatnya.

Sejak dini, Anda harus tahu cara mencegah terjadinya aritmia secara mendadak. Ada langkah sederhana, yakni memeriksa detak nadi yang berperan penting untuk jantung.

Jika ada kelainan detak nadi, segera konsultasikan dengan dokter. Penyakit ini jangan diabaikan agar tidak menimbulkan kematian yang berdampak membahayakan.