OneEast.co.id - Pertama kalinya dalam sejarah, Asia menjadi negara terbanyak bagi para miliarder di dunia. China menjadi negara terbesar di kawasan tersebut yang memiliki jumlah miliarder terbesar. UBS Wealth Management and PwC Private Banking mencatat saat ini jumlah miliarder di China melebihi jumlah miliader di Amerika Serikat. Melansir Forbes yang dikutip laman Okezone.com, Selasa (31/10/17), tercatat dua miliarder lahir di China setiap minggu, dengan hampir semua miliarder baru tersebut mendapatkan kekayaan dari usaha sendiri dan bukan dari warisan keluarga multi generasi.

Tapi, apa yang membuat miliarder China lebih menonjol adalah pertumbuhan orang kaya di usia muda. Sementara banyak miliarder di seluruh dunia menua, di China miliarder berada di rata-rata usia 55 tahun, enam tahun lebih awal dari para miliarder mereka di Amerika, dan tujuh tahun lebih muda dari orang Eropa.

Salah satu cara orang China mengumpulkan kekayaan mereka adalah melalui pasar saham. Berbeda dengan miliarder di daerah barat, di mana rata-rata miliarder suskes lewat startups dan go public lebih dari 10 tahun, pengusaha Asia lebih suka mendaftarkan perusahaan mereka lebih awal melalui penawaran umum perdana. Dengan banyak cara untuk meningkatkan pendanaan, startup AS terutama yang bergerak di bidang teknologi, menghindari Wall Street seperti wabah penyakit. Uber, Airbnb, Pinterest dan Dropbox adalah perusahaan yang menonjol, dengan valuasi lebih dari USD10 miliar yang tumbuh lamban dan stabil.

Sebaliknya, para pendiri startup China dengan berani membawa perusahaan mereka ke pasar saham, tanpa terpengaruh oleh kinerja pasar bak roller coaster yang potensial yang sering hadir dengan valuasi startup yang tinggi. Apakah perusahaan tersebut berakhir di bursa Shanghai, ChiNext atau memutuskan untuk pergi ke luar negeri ke New York Stock Exchange, nampaknya publik memberi karpet merah kepada perusahaan China. Studi PBS UBS menunjukkan ticker saham meningkatkan persepsi bisnis dan merek dengan pelanggan, pemasok, dan bahkan karyawan perusahaan sendiri.

Pada 2016, 63% dari 568 perusahaan patungan di Asia tercatat di bursa saham, lebih banyak dari perusahaan Amerika yang hanya 37% dari 421 perusahaan dan dari perusahaan Eropa sebesar 40% dari 256. Diperkirakan, 600 perusahaan China antre untuk mendapatkan persetujuan IPO saat ini. Selain itu, beberapa miliarder China juga mendapatkan kekayaan mereka dari meningkatnya harga real estat China dan belanja infrastruktur yang juga membantu menggerakkan kekayaan hak istimewa. Nilai bersih kolektif dari tujuh pengembang teratas di negara itu naik USD44 miliar sejak awal tahun ini.

Meskipun ada upaya pemerintah untuk mendinginkan pasar properti dengan berbagai pembatasan pinjaman dan pembatasan pembelian, harga di kota-kota yang terkemuka seperti Shanghai dan Shenzhen menggelembung lebih dari 60% di kuartal pertama. Pertumbuhan investasi real estat China juga meningkat seiring dengan berlanjutnya permintaan lanjutan dalam beberapa bulan terakhir dan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah meskipun miliarder China tumbuh pada kecepatan dan angka, mereka tertinggal dalam volume. Kekayaan rata-rata yang dimiliki miliarder mencapai di China hanya USD2,5 miliar, dan menjadi yang terendah di antara rekan-rekan mereka di Asia. Banyak kekayaan mereka mengandalkan pergerakan dolar AS, dan inilah yang membuat mereka rentan terhadap fluktuasi pasar dan rentan terhadap perubahan politik dan ekonomi.